Informasi Resmi PPI Kab.Klaten

Dua Carik Kain Bendera Pusaka

Tahun 1944, setahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Dwitunggal Soekarno-Hatta, Jepang telah menjajnjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Itu berarti bendera Merah Putih sudah boleh dikibarkan dan lagu kebangsaan Indonesia Raya boleh berkumandang di seluruh Nusantara.

Tentu saja orang-orang yang berperan besar dalam persiapan kemerdekaan memerlukan bendera itu, tak terkecuali  ibu Fatmawati, isteri Soekarno yang kelak menjadi SAng Proklamator. Bendera itu dipersiapkannya untuk dikibarkan di depan kediamannya di jalan pegangsaan timur 56 Jakarta.

Tak dapat dibayangkan, pada saat sebagian rakyat ndonesia ada yang tak punya pakaian dan menggunakan karung, ibu Fatmawati memerlukan kain berwarna merah dan putih untuk membuat sebuah bendera. idak mudah untuk mendapatkan kain, apalagi barang-barang eks impor masih berada di tangan Jepang. Kalaupun ada diluar, untuk mendapatkannya harus dengan cara diam-diam dan berbisik0-bisik.

Untuk itulah ibu Fatmawati kemudian memanggil seorang pemuda bernama Chaerul Basri. SAng Pemuda dimintanya untuk menemui seorang pembesar Jepang bernama Shimizu yang dipastikan dapat mmbantu mncarikan kain Merah-Putih itu.

Shimizu adalah orang yang ditunjuk pemerintah Jepang sebagai perantara dalam perundingan Jepang – Indonesia pada tahun 1943. Kedudukan/jabatan resminya adalah pimpinan barisan propaganda Jepang yaitu Gerakan 3-A.

Shimizu yang politikus tidak seperti orang jepang lainnya yang selalu bertindak kasar atas dasar hubungan kekuasaan. Shimizu rajin mendengarkan unek-unek, pikiran dan pendirian pihak Indonesia.

Karena itu ia lebih dianggap sebagai teman dan mudah diterima di berbagai kalangan, apalaghi dengan kemampuan bahasa Indoensia yang lumayan meskipun patah-patah.

Memang benar, Shimizu dapat membantu Chaerul Basri. Kain merah dan putih yang dibutuhkan ibu Fatmawatikemudian didapatkan dari seorang pembesar Jepang lainnya yang mengepalai gudang di bilangan pintu air di depan eks bioskop capitol. Shimizu meminta pada chaerul untuk memberikan kain itu kepada ibu fatmawati. Kain itulah yang kemudia dijahit oleh ibu Fatmawati dengan tangan menjadi bendera berukuran 2 X 3 meter.

Crita itu terasa amat sepele pada waktu itu, dan tak pernah diingat-ingat oleh Shimisu maupun Chaerul.

Itu berlangsung sampai pada tahun 1977 ketika Shimizu datang berkunjung ke Indonesia dan bertem,u dengan prsiden Soeharto. Malam harinya Shomizu mengadakan pertemudan dengan tokoh-tokoh Indonesia yang dikenalnya selama jaman jepang.

Pada malam itulah ibu Fatmawati menjelasakan kepada Shimizu bahwa bedera merah putih yang dikibarkan pertama kali di pegangsan timur 56 dan pada hari Proklamasi Kemerdekaan RI tgl 17 Agustus 1945 yang sekarang dikenal sebagai bendera pusaka, kainnya berasal berasal dari Shimizu. Kenyataan ini begitu membanggakan buat Chaerul Basri dan Shimizu, yang tak menyangka bila apa yang mereka lakukan begitu besar artinya bagi bangsa Indonesia sampai saat ini.

 

SUMBER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s